Tak Tertulis Untukku (Repackage)
Ini sebenarnya cerita lama. Gw bikin iseng-iseng sekitar 3 taon yang lalu di blog fs gw. Idenya gw ambil dari kejadian-kejadian yang dialami temen-temen seangkatan gw. Yaa.. sedikit banyak ada jg lah pengalaman-pengalaman gw masuk disitu.. :p Awalnya, gw tulis buat nyemangatin temen gw,.. namun belakangan gw sempet ga enak, karena ternyata kenyataan yg terjadi jauh berbeda…
Nah, sekarang-sekarang ini,.. gw liat temen gw dah mulai “hidup” lagi.. jadi gw pikir kayaknya menarik jg kalo diterusin. Bukan maksud bikin sakit hati atau apa, tp sepertinya seru juga bernostalgia. Setidaknya bisa bikin tersenyum.
Ya sudah, simak aja.. ini ceritanya…
****************************************************************
Februari 2005. Awal semester baru di kampusku. Semester ini mungkin merupakan semester terakhir bagi sebagian besar teman seangkatanku. Tapi sepertinya tidak bagi ku. Tak terasa, hampir empat tahun sudah aku berada di kampus yang katanya kampus terbaik di negeri ini. Perasaan baru kemarin aku mengikuti masa orientasi studi mahasiswa baru atau biasa disebut OS. Hari-hari indah namun sekaligus cukup menyeramkan bila diingat-ingat lagi. Indah karena pada masa itu, aku menemukan lingkungan baru, teman-teman baru dengan karakter beraneka, dan sekaligus awal petualangan baru hidupku.
Namun cukup menyeramkan karena push up kepal, merayap, lompat, lari, berguling, jadi menu rutin untuk hampir enam bulan. Tampang jutek senior dan wajah seram swasta (singkatan dari mahasiswa tingkat akhir, diatas senior) jadi sajian utama setiap pertemuan. Teriakan-teriakan, ”Adi !! lelet kamu !!” dari senior, selalu bikin kuping panas, namun kemudian celetukan swasta, ”Pecel kali,.. lelet..!”, bikin perut sakit nahan ketawa. Singkatnya OS indah untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang.
Tapi justru masa-masa itu yang membuat teman-teman seangkatan jadi lebih akrab. Bahkan keakraban tersebut banyak memunculkan kisah cinta yang cukup menarik untuk jadi tema diskusi. Mulai dari hubungan misterius Aria-Putri, ’cinta sebelah tangan’ Danang ke Dewi, hingga munculnya organisasi ilegal SFC yang berisi lelaki pengagum wanita kalem nan ayu bernama Sari. Parahnya, akulah salah satu penggagasnya, hehe..
Tidak benar-benar serius, hanya ide iseng dari sebuah obrolan para lelaki jomblo di angkatanku. Orang sepertiku tak pernah berani bermain-main dengan perasaan sendiri, takut kalau-kalau ntar malah sakit sendiri. Apalagi sejak SMA aku tak pernah punya record untuk urusan pacaran, alias ’jomblo ting-ting’, ampe sekarang, hehe.. Lha gimana mo punya pacar, kalo ngobrol ama cewe aja malu..! Yah, inilah aku, Adi Wibisono. Aku lebih tertarik pada romantisme hubungan komponen-komponen the giant calculator ketimbang mikirin cewe, pacar, dan cinta. Aneh mungkin, tapi aku tak pernah menganggap ini sebagai masalah serius yang harus buru-buru dicari solusinya. Aku percaya semua ada prosesnya, dan menurutku masa kuliah yang hampir empat tahun ini bagian dari proses itu. Meskipun tak berubah status (tetap jomblo, hee..), tapi setidaknya sekarang aku agak lebih pede ngobrol ama cewe. “Cewe-cewe..come to papa..”, dalam benakku, hehe..
Sekarang, teman-teman seangkatan tampak tak tertarik lagi dengan kisah-kisah di seputar angkatan. Mereka semua tengah berusaha keras untuk segera keluar dari kampus ini tepat pada waktunya. Aku sendiri,..mmm..aku juga ingin cepat lulus sebenarnya, tapi aku ingin ngelewatinya dengan santai. Lagian si Aria, partner Tugas Akhir ku, juga kayanya ga mau buru-buru karena masih sibuk dengan urusannya diluar kampus. Jadi, kalau bisa lulus tahun ini, luar biasa, tapi bila harus tahun depan juga tak jadi masalah. Toh, masih banyak yang bisa aku kerjakan disini.
”Duaaarrr !!”, suara lengking ni cewe bikin kaget dan sekaligus membuyarkan sederet lamunanku tadi. Dia adalah Lina, salah satu teman seangkatan.
”Heh, ngagetin.. Dari mana ?”, tanyaku.
”Hehe..Adi siy.. are gene ngelamun,.. Abis dari GKU Lama, kuliah. Ngapain siy ?, ngelamunin Lina yak ?! hihi..”
“Hoo.. Kaga. Ini nih si Aria lama bener, katanya mo ngadep Bu Ria, bimbingan.. tapi jam segini blon dateng-dateng..”
July 1, 2009 at 12:50 pm
[...] notes on my footpath.. « Tak Tertulis Untukku (Repackage) [...]